KAMI TIDAK AKAN MENGECEWAKANMU IBU
Ketika embun di dedaunan mulai
mengering, pada waktu itulah kedua orang tuaku mulai mengais rezki untuk
memenuhi kebutuhan hidup kami. Ayahku hanyalah seorang petani, yang hari-
harinya menghabiskan waktu di kebun ladang. Sedangkan ibuku membantu ayahku
mengais rezki dengan cara berjualan kue.
Aku adalah anak sulung mereka dari tiga
saudara, sekarang aku sudah melanjutkan sekolahku diperguruan tinggi. Adikku
bernama Rara, sekarang dia duduk dibangku kelas 2 SMK, dan yang paling kecil
bernama Raka duduk dibangku kelas 3 SD.
Hari demi hari kedua orang tuaku mengais
rezki, demi anak-anaknya. Mereka tak ingin kami bodoh, miskin akan ilmu. Tekad
dan keyakinan mereka untuk menyekolahkan kami sungguh kuat. Aku sangat bangga
memiliki orang tua seperti mereka.
Tapi
entah kenapa hari yang cerah menjadi mendung, kebahagiaan menjadi kesedihan.
Ayahku jatuh sakit, sudah berbagai cara yang digunakan untuk mengobati ayah,
namun tak juga sembuh. Tetapi walau
bagaimana pun, ayahku selalu berusaha membuat kami bahagia. Dia tak mau melihat
kami sedih, lemah, dan tak berdaya dikarenakan dia sakit.
Setahn sudah berlalu, namun penyakit
ayahku tak juga sembuh. Sehingga hal ini menyebabkan Ibuku ambil alih tugas
Ayahku. Ibuku menjadi kepala punggung keluarga menggantikan ayah kami.
Aku tau, Ibuku pasti lelah jika seharian
bekerja. Dan aku juga tau apa yang ada di pikirannya jika waktu malam tiba.
Tapi aku tidak bisa berbuat apa- apa. Aku hanya bisa membantunya jika aku ada
waktu. Bahkan untuk saat ini akau sama
sekali tidak bisa membantunya dikarenakan aku sibuk dengan perkuliahanku.
Untuk meringankan beban Ibuku, aku
selalu menghematkan uang, hari- hariku, ku isi dengan puasa. Begitu juga dengan
adikku Rara, demi cita- citanya, dia rela tinggal di rumah orang dan bekerja
disana untuk mendapatkan biaya sekolahnya.
Namun demikian, sebaik- baik apapun
orang pasti ada sifat jeleknya. Gengsi merupakan sifat yang sulit di buang
rasanya bagiku. Sifat ini telah melekat pada diriku. Jujur, jika melihat teman-
temanku di kampus yang serba ada, aku jadi iri kepada mereka. Bahka rasa gengsi
membuat aku benci dengan kehidupan yang sebenarnya. Tetapi jika teringat dengab
Ibu, hatiku luluh, air mata ini tak bisa dihentikan rasanya.
Aku
sadar, aku ini hanyalah seseorang yang berasal dari keluarga yang kurang mampu,
dan aku harus ingat tujuan utamaku kuliah untuk apa. “Ibu… maafkan aku, hampir saja aku kebawa arus yang menyesatkan”.
“seharusnya
aku tidak boleh lemah dengan kondisi seperti ini, aku harus bisa bangkit, bisa
membuat kedua orang tuaku bahagia. Karena dia tidak pernah menyerah, putus asa
untuk membesarkan anaknya yang penuh dengan rintangan”, batinku berkata.
Setiap kali aku hendak berangkat
menuntut ilmu, selalu aku niatkan di hati semoga
ilmu yang ku dapatkan hari ini berkah dan diridhai Allah swt. Dan ketika
sesudah shalat, aku selalu mendoakan kedua orang tuaku supaya Allah mmberikan
perlindungan kepada mereka dan kesehatan yang cukup.
Tidak hanya itu saja, aku juga mencari
pekerjaan sambilan setelah pulang dari kuliah,
demi untuk keperluan perkuliahanku.
Tiga tahun dijalani tanpa terasa. Perkuliahanku
akhirnya terselesaikan juga. Aku berhasil membuat orang tuaku bangga kepadaku,
bukan itu saja, aku juga bisa menghilangkan rasa letih mereka selama mereka
menyengolah dan mendidikku. Walaupun kehidupan keluargaku ini sederhana, tapi
kami mempunyai tekad yang kuat demi ilmu.
No comments:
Post a Comment