Sunday, November 15, 2015



KAMI TIDAK AKAN MENGECEWAKANMU IBU

Ketika embun di dedaunan mulai mengering, pada waktu itulah kedua orang tuaku mulai mengais rezki untuk memenuhi kebutuhan hidup kami. Ayahku hanyalah seorang petani, yang hari- harinya menghabiskan waktu di kebun ladang. Sedangkan ibuku membantu ayahku mengais rezki dengan cara berjualan kue.
Aku adalah anak sulung mereka dari tiga saudara, sekarang aku sudah melanjutkan sekolahku diperguruan tinggi. Adikku bernama Rara, sekarang dia duduk dibangku kelas 2 SMK, dan yang paling kecil bernama Raka duduk dibangku kelas 3 SD.
Hari demi hari kedua orang tuaku mengais rezki, demi anak-anaknya. Mereka tak ingin kami bodoh, miskin akan ilmu. Tekad dan keyakinan mereka untuk menyekolahkan kami sungguh kuat. Aku sangat bangga memiliki orang tua seperti mereka.
 Tapi entah kenapa hari yang cerah menjadi mendung, kebahagiaan menjadi kesedihan. Ayahku jatuh sakit, sudah berbagai cara yang digunakan untuk mengobati ayah, namun tak juga sembuh.  Tetapi walau bagaimana pun, ayahku selalu berusaha membuat kami bahagia. Dia tak mau melihat kami  sedih, lemah, dan tak berdaya  dikarenakan dia sakit.
Setahn sudah berlalu, namun penyakit ayahku tak juga sembuh. Sehingga hal ini menyebabkan Ibuku ambil alih tugas Ayahku. Ibuku menjadi kepala punggung keluarga menggantikan ayah kami.
Aku tau, Ibuku pasti lelah jika seharian bekerja. Dan aku juga tau apa yang ada di pikirannya jika waktu malam tiba. Tapi aku tidak bisa berbuat apa- apa. Aku hanya bisa membantunya jika aku ada waktu. Bahkan untuk saat ini akau sama  sekali tidak bisa membantunya dikarenakan aku sibuk dengan  perkuliahanku.
Untuk meringankan beban Ibuku, aku selalu menghematkan uang, hari- hariku, ku isi dengan puasa. Begitu juga dengan adikku Rara, demi cita- citanya, dia rela tinggal di rumah orang dan bekerja disana untuk mendapatkan biaya sekolahnya.
Namun demikian, sebaik- baik apapun orang pasti ada sifat jeleknya. Gengsi merupakan sifat yang sulit di buang rasanya bagiku. Sifat ini telah melekat pada diriku. Jujur, jika melihat teman- temanku di kampus yang serba ada, aku jadi iri kepada mereka. Bahka rasa gengsi membuat aku benci dengan kehidupan yang sebenarnya. Tetapi jika teringat dengab Ibu, hatiku luluh, air mata ini tak bisa dihentikan rasanya.
Aku sadar, aku ini hanyalah seseorang yang berasal dari keluarga yang kurang mampu, dan aku harus ingat tujuan utamaku kuliah untuk apa. “Ibu… maafkan aku, hampir saja aku kebawa arus yang menyesatkan”.
seharusnya aku tidak boleh lemah dengan kondisi seperti ini, aku harus bisa bangkit, bisa membuat kedua orang tuaku bahagia. Karena dia tidak pernah menyerah, putus asa untuk membesarkan anaknya yang penuh dengan rintangan”, batinku berkata.
Setiap kali aku hendak berangkat menuntut ilmu, selalu aku niatkan di hati semoga ilmu yang ku dapatkan hari ini berkah dan diridhai Allah swt. Dan ketika sesudah shalat, aku selalu mendoakan kedua orang tuaku supaya Allah mmberikan perlindungan kepada mereka dan kesehatan yang cukup.
Tidak hanya itu saja, aku juga mencari pekerjaan sambilan setelah pulang dari kuliah,  demi untuk keperluan perkuliahanku.
Tiga tahun dijalani tanpa terasa. Perkuliahanku akhirnya terselesaikan juga. Aku berhasil membuat orang tuaku bangga kepadaku, bukan itu saja, aku juga bisa menghilangkan rasa letih mereka selama mereka menyengolah dan mendidikku. Walaupun kehidupan keluargaku ini sederhana, tapi kami mempunyai tekad yang kuat demi ilmu.

No comments:

Post a Comment